Mata peristiwa - WASHINGTON D.C. — Cahaya lampu kamera memantul dari bingkai kaca berisi medali Nobel Perdamaian yang tergeletak di hadapan Donald J. Trump. Di Ruang Oval, Rabu (15/1), momen itu tampak seperti pengakuan sejarah. Namun, ribuan kilometer dari Gedung Putih, di Oslo, satu kalimat tegas membuyarkan simbolisme tersebut: Hadiah Nobel tidak dapat dialihkan ke siapa pun.
Medali itu diserahkan langsung oleh MarÃa Corina Machado, tokoh oposisi Venezuela sekaligus penerima Nobel Perdamaian 2025, sebagai bentuk penghormatan atas dukungan Trump terhadap perjuangan demokrasi di negaranya. Trump menerimanya sambil tersenyum, menyebutnya sebagai “gestur kehormatan”.
Namun, bagi Nobel Foundation dan Komite Nobel Norwegia, momen itu tidak mengubah apa pun.
“Hadiah Nobel tidak dapat dipindahkan, dibagikan, atau dialihkan kepada orang lain — bahkan secara simbolis,” tegas pernyataan resmi Nobel Foundation tak lama setelah peristiwa tersebut.
Dengan kata lain, meski medali itu kini berada di tangan Trump, nama yang tercatat dalam sejarah tetap Machado — dan hanya Machado.
Harapan Gedung Putih yang Tak Padam Di Washington, respons Gedung Putih tidak kalah lantang. Juru bicara Trump menyebut reaksi Nobel Foundation sebagai “sempit” dan menegaskan bahwa mantan presiden AS itu layak mendapat pengakuan atas kontribusinya dalam diplomasi internasional dan upaya perdamaian global.
Pencapaiannya nyata. Dunia tahu itu,” ujar pernyataan resmi Gedung Putih, yang tetap berharap Nobel setidaknya mencatat kontribusi Trump, meski tidak memberinya penghargaan secara formal.
Namun, struktur Nobel tidak memberi ruang untuk “catatan tambahan” semacam itu. Setiap penghargaan diputuskan melalui proses seleksi independen, tertutup, dan tidak dapat direvisi setelah diumumkan.
Aksi Machado memicu gelombang reaksi internasional.
Di Norwegia, sejumlah politisi dan akademisi menyebut peristiwa tersebut sebagai “kesalahpahaman publik” terhadap makna Nobel. Di media sosial, perdebatan mengeras: antara yang melihatnya sebagai simbol solidaritas, dan yang menilainya sebagai politisasi penghargaan paling prestisius di dunia.
Para pakar Nobel menegaskan satu hal: medali hanyalah benda fisik; status Nobel adalah keputusan hukum dan sejarah.
Ketika pintu Ruang Oval kembali tertutup dan kamera dimatikan, yang tersisa adalah kontras tajam antara simbol dan aturan.
Di Washington, sebuah medali dipajang sebagai penghormatan.
Dan di antara keduanya, harapan Gedung Putih masih menggantung — bahwa suatu hari, nama Donald Trump akan disebut bukan sebagai penerima simbol, melainkan sebagai pemenang sesungguhnya.
Untuk saat ini, aturan Nobel telah berbicara lebih keras daripada gestur politik mana pun.
