Dunia di Ambang Perang Dunia III? Pola Global Dinilai Mirip Jelang Perang Dunia I dan II

 


Situasi geopolitik global saat ini dinilai sejumlah pengamat internasional menunjukkan kemiripan pola dengan kondisi dunia menjelang pecahnya Perang Dunia I (1914) dan Perang Dunia II (1939). Meski belum dapat disimpulkan akan berujung pada perang global terbuka, eskalasi konflik regional, rivalitas kekuatan besar, serta melemahnya tata kelola internasional menjadi indikator yang patut diwaspadai.

Sejarah mencatat, Perang Dunia I dipicu oleh akumulasi ketegangan panjang antarblok kekuatan besar Eropa, perlombaan senjata, aliansi militer yang kaku, serta nasionalisme ekstrem. Sementara Perang Dunia II diawali oleh krisis ekonomi global, kegagalan diplomasi internasional, kebangkitan rezim otoriter, dan ekspansi militer agresif yang dibiarkan tanpa respons tegas.

Konflik Regional yang Saling Terhubung Saat ini, dunia dihadapkan pada berbagai konflik besar yang saling berkelindan. Perang Rusia–Ukraina telah berlangsung lebih dari dua tahun dan melibatkan dukungan militer serta ekonomi dari negara-negara NATO. Di Timur Tengah, konflik Israel–Palestina kembali memanas dan berpotensi meluas melibatkan aktor regional. Sementara di kawasan Indo-Pasifik, ketegangan di Laut China Selatan dan isu Taiwan terus meningkatkan rivalitas antara Amerika Serikat dan China.

Para analis menilai konflik-konflik tersebut memiliki karakteristik serupa dengan “perang proksi” pada masa sebelum perang dunia, di mana kekuatan besar tidak berhadapan langsung namun saling menguji kekuatan melalui konflik regional.

Perlombaan Senjata dan Polarisasi Global Data lembaga riset internasional menunjukkan belanja militer global terus meningkat dan mencapai rekor tertinggi dalam beberapa tahun terakhir. Negara-negara besar mempercepat modernisasi persenjataan, termasuk senjata hipersonik, sistem pertahanan siber, hingga kecerdasan buatan militer.

Di sisi lain, dunia kembali terpolarisasi ke dalam blok-blok kekuatan geopolitik. Hubungan antara Barat dan Rusia memburuk drastis, sementara kompetisi strategis AS–China kian tajam. Kondisi ini mengingatkan pada sistem aliansi kaku sebelum Perang Dunia I yang membuat konflik kecil berpotensi berkembang menjadi perang besar.

Melemahnya Peran Lembaga Internasional Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dan lembaga multilateral lainnya dinilai menghadapi keterbatasan serius dalam mencegah eskalasi konflik. Hak veto di Dewan Keamanan PBB kerap membuat resolusi perdamaian menemui jalan buntu, situasi yang mengingatkan pada kegagalan Liga Bangsa-Bangsa sebelum Perang Dunia II.

Ketidakpercayaan antarnegara serta meningkatnya politik unilateral memperkecil ruang diplomasi dan memperbesar risiko salah perhitungan strategis.

Perang Dunia III: Ancaman atau Peringatan?Meski berbagai indikator menunjukkan kemiripan pola sejarah, para pakar menegaskan bahwa dunia saat ini juga memiliki faktor penahan (deterrence), terutama keberadaan senjata nuklir dan ketergantungan ekonomi global yang tinggi. Faktor-faktor tersebut membuat perang dunia terbuka menjadi opsi paling mahal dan berisiko bagi semua pihak.

Namun demikian, para ahli sepakat bahwa tanpa penguatan diplomasi, reformasi tata kelola global, dan komitmen menahan eskalasi, dunia dapat tergelincir ke konflik berskala lebih besar akibat akumulasi krisis yang tidak tertangani.

Situasi global saat ini lebih tepat dipandang sebagai peringatan keras sejarah: bahwa perang dunia bukan terjadi secara tiba-tiba, melainkan melalui rangkaian kegagalan politik, diplomasi, dan kemanusiaan yang dibiarkan berlarut-larut.

Lebih baru Lebih lama