Berseragam Dinas, Kades Sragen “Mandi” di Lumpur Jalan Rusak: Aksi Protes yang Mengguncang Warga

 


Sragen — mata peristiwa

Genangan lumpur berwarna cokelat pekat memenuhi badan jalan yang rusak parah di wilayah Desa Ngepringan, Kecamatan Jenar, Kabupaten Sragen. Pagi itu, jalan yang berlubang dan licin menjadi saksi sebuah aksi tak biasa. Seorang pria berseragam dinas lengkap turun ke tengah kubangan, menyiramkan air lumpur ke tubuhnya, seolah sedang mandi di jalan umum.

Pria tersebut adalah Kepala Desa Ngepringan, Narso.

Warga yang melintas tampak terdiam. Beberapa mengeluarkan ponsel, merekam kejadian yang kemudian viral di media sosial. Dengan seragam dinas masih melekat, Narso berdiri di tengah jalan rusak yang dipenuhi air dan lumpur, memperlihatkan kondisi yang selama ini dikeluhkan warga.

“Ini jalan sudah lama rusak, tapi belum juga diperbaiki,” ujar Narso di lokasi kejadian.

Menurut penuturan Narso, jalan kabupaten Mlale–Ngepringan tersebut telah rusak parah selama bertahun-tahun dan semakin memburuk sejak beberapa tahun terakhir. Saat hujan turun, jalan berubah menjadi kubangan lumpur yang membahayakan pengendara. Banyak warga, termasuk pelajar dan petani, kesulitan melintas. Tak jarang pengendara terpeleset dan kendaraan rusak.

Aksi mandi lumpur itu dilakukan secara spontan. Narso mengaku kesal karena kondisi jalan tak kunjung mendapat perbaikan meski sudah sering diusulkan. Ia sengaja mengenakan seragam dinas sebagai simbol tanggung jawab dan bentuk protes terbuka kepada pihak berwenang.

Video aksi tersebut dengan cepat menyebar luas di media sosial dan memantik reaksi publik. Banyak warganet menyebut aksi itu sebagai “teriakan putus asa” dari seorang kepala desa yang memperjuangkan keselamatan warganya.

Tak lama setelah video viral, Pemerintah Kabupaten Sragen melalui Dinas Pekerjaan Umum turun meninjau lokasi. Pihak DPU menyatakan akan melakukan kajian teknis dan menindaklanjuti kerusakan jalan tersebut, meski sebelumnya perbaikan terkendala anggaran.

Bagi warga setempat, aksi sang kades bukan sekadar tontonan viral. Jalan rusak itu adalah jalur utama aktivitas ekonomi dan pendidikan mereka sehari-hari.

“Kalau hujan, kami takut lewat sini. Sudah sering ada yang jatuh,” kata salah seorang warga.

Aksi mandi lumpur di tengah jalan rusak itu kini menjadi simbol protes keras dari daerah pinggiran yang menuntut perhatian. Sebuah pesan visual yang tak lagi disampaikan lewat proposal, melainkan lewat lumpur yang dirasakan langsung oleh penguasa dan publik.

Lebih baru Lebih lama