Sumedang, Selasa 16 Desember 2025 – Proyek hotmix Jalan Gang RW 04 di Dusun Mariuk, Desa Margaluyu, Kecamatan Tanjungsari, Kabupaten Sumedang, yang bersumber dari Dana Desa (DD) sebesar Rp25.575.000 (+PPn & PPh), menjadi sorotan publik. Pasalnya, baru satu hari setelah pengerjaan, kondisi jalan menurut informasi warga mulai mengelupas di bagian pinggir, bahkan dasar jalan lama terlihat jelas.
Pantauan tim liputan di lokasi menunjukkan lapisan hotmix tidak menyatu secara optimal. Sejumlah warga menilai kualitas pekerjaan jauh dari harapan.
“Hotmix-na murudul, teu padet, kakara sapoé geus mimiti ngelupas,” ujar salah seorang warga, menggambarkan kondisi aspal yang mudah terkelupas meski baru selesai dikerjakan.
Selain kualitas fisik jalan, transparansi volume pekerjaan turut dipertanyakan. Tokoh masyarakat setempat menyebut panjang, lebar, dan ketebalan hotmix tidak tercantum dalam papan informasi proyek, sehingga menyulitkan masyarakat melakukan pengawasan.
Menurut tokoh masyarakat, dalam rapat Musyawarah Desa (Musdes) sebelumnya, putra daerah sempat menyanggupi pengerjaan dengan panjang mencapai 173 meter. Namun, saat proyek direalisasikan, pekerjaan justru dilaksanakan oleh pihak lain dan panjang jalan yang dikerjakan diduga hanya sekitar 125 meter. Perbedaan ini dinilai menimbulkan tanda tanya di tengah masyarakat.
Saat dikonfirmasi melalui pesan WhatsApp, Sekretaris Desa Margaluyu membenarkan bahwa rincian volume memang tidak dicantumkan di papan proyek.
“Hapunten, nu panjang, lebar, sareng tinggina teu kaserat,” tulis Sekdes. Ia menambahkan bahwa volume pekerjaan hotmix tersebut adalah 125 meter × 1,5 meter × 0,03 meter.
Meski klarifikasi telah disampaikan, tokoh masyarakat menilai penjelasan tersebut belum sepenuhnya menjawab persoalan, khususnya terkait perbedaan hasil Musdes dan realisasi di lapangan, serta kualitas pekerjaan yang dinilai cepat mengalami kerusakan.
Warga menduga ketebalan lapisan hotmix tidak diterapkan secara merata atau proses pemadatan tidak dilakukan sesuai standar teknis, sehingga jalan mudah mengelupas meski belum lama digunakan.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada keterangan resmi terkait evaluasi teknis maupun rencana perbaikan ulang dari pihak pelaksana kegiatan. Masyarakat berharap pemerintah desa melakukan klarifikasi terbuka, pengecekan ulang volume, serta perbaikan menyeluruh, agar Dana Desa benar-benar digunakan secara transparan, akuntabel, dan memberi manfaat jangka panjang bagi warga.
Kaperwil jabar

